Jumat, 30 Mei 2008

Menyikapi kenaikan BBM dengan akal sehat

“Buat apa ada pemerentah kalo idup terus-terusan susah!!”, sebuah celotehan ringan dari seorang musisi yang terkenal dengan lagu BENTOnya.

Pemerintah dengan segala kekuasaan dan kearoganannya semakin menghambat kemakmuran masyarakat di negeri ini. Kebijakan-kebijakan yang dibuat semakin mempersempit harapan kita untuk makmur, sejahtera dan bermartabat. Mungkin sudah saatnya petani, nelayan, buruh dan elemen-elemen masyarakat lainnya membuat sebuah Negara-negara kecil di desa, kampung, dusun, jorong dengan system dan kebijakan yang berpihak kepada mereka. Negara sampai hari ini hanya memberikan mimpi soal kesejahteraan dan dengan naiknya harga BBM, mimpi itu semakin jauh untuk di raih.
Demonstrasi yang marak terjadi hanya menjadi tontonan sore menemani minum teh para pemangku kebijakan negeri ini. Semua tenaga, pikiran dan strategi kita hari ini hanya mengarah kepada bagaimana menggulingkan rezim ini, tanpa ada strategi sedikitpun untuk bias mensejahterakan diri kita sendiri.

“Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini”, kata-kata ini baiknya kita simpan dulu. Tidak akan ada perubahan yang signifikan dengan teriakan-teriakan itu saat sekarang ini. Perubahan yang signifikan akan kita rasakan ketika kita mulai merubah pola fikir, pola hidup dan pola bermasyarakat kita. Si miskin tidak akan kelaparan saat ini, jika si kaya berbondong-bondong membawakan jatah lebih makan mereka ke rumah-rumah si miskin. udara kita sedikit menjadi lebih segar karena banyak pengendara motor yang berganti kendaraan dengan sepeda. Mobil-mobil nogkrong di garasi-garasi mewah karena pemiliknya beralih menjadi penumpang Bus.

Capek!!! Itu kata yang pasti muncul ketika kita melakukan hal di atas. Lebih capek lagi kalau kita terus memaksa pemerintah sementara pemerintahnya tidak mau di paksa. Demonstari untuk menggulingkan rezim sekarang dan mengganti rezim baru pun tidak akan menjamin kita akan lebih baik dari sekarang. Mogok kerja pun tidak akan membuat dapur kita terus ngebul, so…. Apa yang seharusnya kita lakukan??? Bertahan hidup dengan segala pikiran, usaha, kekerabatan dan sumberdaya yang kita miliki menjadi solusi yang paling tepat.

Seorang pakar pernah berkata “ancaman akan menjadi bencana ketika masyarakatnya rentan”. Kerentanan muncul ketika masyarakat tidak mau merubah pola hidup, pola fikir dan pola kekerabatan. Kenaikan harga BBM bukanlah sebuah ancaman yang akan mengakibatkan bencana , jika kita mau dan sadar untuk mereduksi dengan segala kemampuannya.

Kemandoran, 24 Mei 2008, 00.00 WIB


Bruang

1 komentar:

Wiwid mengatakan...

pemikiran seperti ini sudah banyak dipikirkan, bahkan dilontarkan orang-orang sosialis... namun tetap saja, ketika org2 itu masuk kedalam sistem yang menurut bahasa kmu "keshalehan berjamaah yg ironis", mereka tidak bisa menjalankan pemikiran idealis yg pernah dilontarkan itu.
Jadi tetap saja harus mengubah pemikiran dimulai dari pertanyaan pada diri sendiri,
apa kita bisa mengubah pemikiran, perilaku, pola hidup, dan pola bermasyarakat kita??
dan menurutku, yang paling penting adalah, mengajak masyarakat berpikir untuk memberi dan menjawab pertanyaan itu untuk dirinya, terserah caranya gimana...
karena lontaran si musisi itu menggambarkan masyarakat sekarang, mgkn termasuk kita, setiap hari hanya mengeluh dan menyalahkan org lain. kita jarang berkaca, mengamati diri, apalagi sampai me"ma'rifat"i diri kita sendiri.
Gimana mo ngerubah sistem kalo diri sendiri aja gak kenal, gimana mau mengubah pola hidup kalo kita masih ngerasa pola hidup kita bner dan org lain salah...???